Program Bank Sampah Pertamina di Tuban Kumpulkan Saldo Rp62 Juta

PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu mengaddakan program bank sampah berbonus saldo Rp62 juta di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.
Wike Dita Herlinda | 02 September 2015 18:03 WIB
Ilustrasi bank sampah/ - Bisnis/Rahmayulis Saleh

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu mengaddakan program bank sampah berbonus saldo Rp62 juta di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.

Program tersebut mulai dilaksanakan sejak Juni 2014 silam. Selain menciptakan lingkungan bersih dari sampah dan pemulung, dari program itu juga dihasilkan saldo yang telah mencapai Rp. 62.157.000 pada h-7 lebaran tahun ini.

"Programnya memang dimulai Juni, tapi anggota yang awalnya hanya 20 terus berkembang hingga 80 orang pada November. Saldo sudah mencapai  Rp.62 juta," ujar koordinator Bank Sampah Delima Banyuurip, Supriyati, Rabu (2/9/2015).

Dia menjelaskan awal mula ada program Bank Sampah dimulai saat Pertamina EP Asset 4 Field Cepu menggandeng mitra kerja, Yayasan Sekar Mandiri mengajak anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), ke Desa Sukorejo, Kecamatan Senori untuk melihat tentang pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami.

Setelah survei itu, lanjutnya, mereka bertekad untuk membuat bank sampah di Desa Banyuurip. Dengan kesepakatan bersama, akhirnya dipilih tempat di sudut depan rumah Supriyati yang ada di Rt 01, RW 03.

"Sempat bingung menentukan namanya. Namun karena di tempat penampungan sampah ada delima, kami beri nama Bank Sampah Delima," tuturnya.

Sistem pengelolaan sampah pada awalnya dilakukan dengan membuat arisan ibu-ibu yang dilaksanakan setiap hari Senin mulai pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB. Selain arisan, para peserta jugga membawa sampah non organik yang ada di rumah masing-masing.

Dari 29 anggota arisan, 20 di antaranya menjadi anggota bank sampah melakukan tugas masing-masing, seperti memilah sampah, menimbang dan mencatat berapa berat sampah yang dibawa oleh ibu-ibu.

Selain itu, ada juga yang bertugas untuk mengambil sampah-sampah di rumah peserta jika tidak hadir dalam pertemuan arisan.

Untuk harga per kilogramnya sampah pada waktu itu, kardus dihargai Rp1.000, plastik keras Rp1.500, kaleng Rp1.300, besi Rp2.500, beling Rp 400, botol minuman energi Rp100 dan botol kecap Rp400.

“Setiap sampah yang dibawa oleh ibu-ibu, hasilnya dicatat dalam buku tabungan. Nantinya, hasil tabungan baru bisa diambil waktu menjelang lebaran,” imbuh Supriyanti.

Ternyata dalam waktu hampir satu tahun, ditambah dengan tabungan dari peserta yang mulai aktif sekitar bulan November kemarin, pada bulan Juli 2015 mencapai saldo Rp62.157.000.

"Menjelang lebaran kemarin dibagikan ke 80 anggota. Tabungan dan bank sampah anggota ada yang dapat mulai dari Rp 180.000 bahkan ada yang sudah Rp 10 juta, padahal belum ada satu tahun,” katanya.

Selain dijual, sampah-sampah yang dikumpulkan juga di buat menjadi kerajinan sampah, yang sempat dipamerkan di  dan dijual mulai dari harga Rp. 2.500,- s/d Rp. 15.000,-.

Cepu Field Manager Pertamina EP Asset 4 Wresniwiro mengharapkan  ke depan Kelompok Bank sampah dapat mandiri dan menjadi contoh dan pendorong kelompok seperti ini di Desa binaan lainnya.

“Saya yakin program bank sampah ini akan menginspirasi masyarakat lainnya karena punya manfaat nyata baik pada lingkungan maupun pendapatan masyarakat,” kata Wiro.

Tag : pertamina ep
Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top